RUSUH PEMILUKADA


Pemilihan kepala daerah di Mojokerto,menjadi catatan hitam demokrasi di negeri ini. Sejumlah orang mengamuk dan menghancurkan apa saja. Puluhan mobil dibakar dan kaca-kaca Gedung DPRD setempat dirusak. Mereka berusaha menggagalkan agenda pemilihan saat digelar penyampaian visi misi calon bupati di Gedung DPRD Mojokerto.

Pemilukada di Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, juga rusuh. Para pendukung calon bupati yang tidak bisa maju dalam pilkada marah, mengamuk, dan merusak gedung DPRD setempat serta rumah-rumah penduduk. Dalam kejadian ini puluhan pengunjuk rasa dan polisi cedera.

Di Banten, ribuan pendukung tiga pasangan kontestan pemilihan Wali Kota Cilegon yang kalah menerobos dan merusak pagar kantor KPUD. Massa menuntut pencoblosan ulang dan penetapan pemenang pilkada dibatalkan. Mereka menuding pelaksanaan pilkada Cilegon diwarnai kecurangan.

Kenapa masyarakat menjadi rusuh dan sepertinya kearah anarkisme dalam berpolitik?
Ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab dan memicu terjadinya kerusuhan. Salah satunya adalah tidak siapnya para elit politik berdemokrasi secara sehat. Demokrasi pasti akan membuka ruang kebebasan. Namun, jika masyarakatnya apalagi kalau elitnya sendiri belum siap pasti akan ada efeknya, oleh Karena itu para elit politik dan tim suksesnya juga harus bertanggungjawab.
Selain itu pemilukada disinyalir penuh dengan politik uang, serta komisioner KPUD yang sudah yang tidak netral.

Selain ketidaksiapan anggaran, ketidaksiapan penyelenggara, peserta pemilukada dan masyarakat dalam berdemokrasi, nampak juga ada persoalan lain dalam proses pelaksanaannya, seperti masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tak kunjung beres.

Dengan bercermin pada pelaksanaan pemilu 2009 lalu dan pemilukada dibeberapa daerah, kita masih mempunyai pekerjaan demokrasi yang sangat besar yang harus dibereskan seperti memberikan pendidikan politik kepada masyarakat dan kepada diri kita sendiri, agardapat merubah mindset kita yang salah dalam berdemokrasi. Membenahi basis data kependudukan agarselalu bisa diperoleh data pemilih up date, etc..
Bila tidak dilakukan kita tidak akan kemana-mana…..

Satu Balasan ke RUSUH PEMILUKADA

  1. Mirza Akhmad mengatakan:

    Saya kira rusuh di Mojokerto ini bukan anarkhisme politik. Ini jelas kerusuhan yang dipicu oleh biang kerok (provokator). elite yang tidak puas dengan pelaksanaa pemilukada berikut team suksesnya memprovokasi pendukungnya untuk bertindak anarkhis. Aparat bisa baca ini dan tinggal ciduk mereka setelah mendengarkan keterangan beberapa orang yang ditangkap di lokasi kejadian.
    Saya pikir tidak ada tempat untuk berkembangnya gerakan anarkhi sebagai suatu ideologi di Indonesia. Kita semua masih percaya demokrasi, hanya saja dalam berdemokrasi masih ditemui praktek-praktek undemokrasi, seperti kurangnya rasa keadilan dan perlakuaan yang sama, transparansi dan profesionalitas KPUD dalam melaksanakan pemilukada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: